Dear you,
Kekasih, percayakah bila wajahmu kupancangkan jelas dalam benak? Bahkan bila sepintas siluetmu melewatiku, kurasakan aura sejelas aura wujudmu dekatku. Kekasih, mungkin Tuhan tak ijinkan rasamu untukku, tak ijinkan ragamu dekatku. Tapi aku akan tetap mengharapkan itu. Kau tau kekasih? Aku selalu berusaha menyentuhmu bersama pilu, mencoba merasuki celah yang ada di relungmu. Entah kau sadar atau tidak dengan semua itu, aku tak ingin kau lupakan! Aku mencoba ada di keadaan semustahil apapun, semustahil matahari bertemu bulan. Selalu ingin kau merasakan aku didekatmu, meski hanya seperti bayangan bumi saat gerhana.
Kekasih, kau memang pulang, tapi bukan untukku, kau memang datang tapi tanpa rasa yang sama dengan ku. Aku tak perduli dengan siapa kau kini, meski mengetahui semua itu menyakiti hati. Bukan sekedar ambisi saat aku berkata, begitu menginginkanmu. Tak usah kau tanya alasan, karena penjelasan hanya mengulur kepergianmu. Kekasih, apa kau mengerti artinya penantian? Jika kau tidak mengerti, maka rasakanlah. Resapi yang aku alami. Tidak kah itu berarti untukmu? Tapi mengasihaniku hanya akan menumpuk kesedihan di akhir cerita ini. Bukan itu yang aku harapkan.
Kekasih, bukan aku ingin menekanmu. Hanya ingin mengungkap gundah yang redam dalam hatiku. Apapun rasamu, aku tetap tersenyum dengan kepulanganmu, berseri dengan kedatanganmu. Dan bersedih dengan kepergianmu, hingga kau berbalik kembali kepelukannya, bermesraan dengan raganya. Bahkan bila bayangan kau dengan nya berkelebat lagi menghantuiku, aku tak perduli. Kau pergi, dan aku menunggu kembali, menunggu kau meninggalkan ku lagi.
Dari hati untuk hati, love you dear....^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar