“Aku tak tau T.B. itu
apa, pokoknya kakek yang ngasih nama itu.” Itu jawaban yang selalu keluar dari
mulutnya. Aneh masa ada orang yang bahkan tidak tau namanya sendiri,bukan karna
amnesia, atau alzhaimer menyerang otaknya. Tapi seolah tak suka dengan
panggilan itu, air muka nya berubah saat disinggung soal singkatan di awal
namanya. Setahun yang lalu dia jadi murid baru dikelas, memperkenalkan diri
dengan wajah sumringah, tersenyum lebar,
dan mata berbinar, menatap seisi kelas dengan kekaguman, padahal yang ada
dikelas waktu itu hanya sekumpulan anak kampung yang duduk di bangku sekolah
menengah tak terpandang.
“
Assalamualaikum, kenalkan nama saya Setyo Pratopo, asal saya dari Kebumen”. Tuh kan bahkan dia tak menyebutkan nama
depannya saat memperkenalkan diri.
“ Tyo coba kau Tanya ibumu, masa dia tidak tau arti
nama T.B.”?
“ Ah, sudahlah, aku saja tak penasaran dengan nama
itu, kenapa kau harus penasaran hah”?
Selalu seperti itu setiap aku bertanya apa arti dari
T.B. Setyo Pratopo? Kenapa Setyo seolah tak ingin dengan nama itu. Aku cukup
akrab dengan Setyo, ibunya bahkan tau aku, ya karena aku yang beliau hubungi
kalau Setyo tak bisa masuk kelas, karena aku sekretaris kelas yang mengurusi
absensi. Kami pun pernah bertemu, pertemuan yang sangat berkesan untuk ku,
entah untuk beliau. Saat melihatku beliau sungguh seolah menampakkan rona
bahagia, sambil memeluk dia menyebutkan namaku. Sekali saja aku bertemu beliau namun
rasanya ada ikatan batin antara kami.
***
Yang aku tau Setyo tak pernah mau teman sekelasnya datang
berkunjung ke kediamannya, dia selalu bilang kalau kakeknya galak, dan
tunggulah kakekknya tak ada, barulah kami boleh berkunjung. Ayah Setyo sudah
meniggal, dan itu yang membuat Setyo dan ibunya pindah dari Kebumen ke kota
kecil tempat tinggalku. Katanya dia punya kakak lelaki yang tampan bagaikan
penyanyi solo terkenal Afgan Syahreza, berkacamata dengan lesung pipit tentunya,
namun kakanya lebih gagah dan lebih tampan. Tapi ia tak pernah mau menyebutkan
siapa nama kakaknya. Aku pernah bilang, kenapa tak berikan saja kakanya padaku,
toh akupun tak kalah cantik, mirip dengan penyanyi Gita Gutawa, dia hanya akan
tertawa terbahak menggoyangkan perutnya yang lumayan buncit.
Pertemuan yang berkesan dengan ibunda dari setyo
membuat terkadang ada rasa rindu, tapi malau lah jika aku bilang pada setyo aku
rindu ibunya, nanti aku disangka punya maksud macam-macam. Tak pernah aku
tanyakan kabar beliau pada setyo. setyo pun tak pernah tertarik untuk
menceritakan perihal keluarga nya. Yang sering setyo ceritakan hanyalah
pengalaman sekolah setyo di kebumen yang penuh corak agama. Dia selalu tertarik
saat pembahasan mengenai perbedaan agama, dan selalu bertanya bagaimana nasib
teman-teman nya di kebumen yang mayoritas beragama nasrani, sedangkan mereka
begitu baik, dan tak suka berbuat maksiat? “Biarlah itu jadi perhitungan Tuhan”,
hanya itu jawaban yang bisa aku berikan. Dan tentunya tidak memuaskan untuk
Setyo.
***
Setelah ujian sekolah berakhir, nama menjadi begitu
penting. Ijasah haruslah jelas, dan setyo tak lagi bisa menyembunyikan namanya.
Saat guru mendesak setyo untuk menjabarkan kata T.B. yang ada pada nama
depannya, setyo pun pasrah.
“Setyo, bagaimana? Sudah kamu tanyakan pada ibumu
singkatan dari T.B itu apa?” ibu guru mencoba bertanya kembali pada setyo.
“T.B. itu singkatan bu, dari… Timothus Baptista.”
Sejenak seisi ruangan kelas menjadi hening, rasa
penasaran aku dan teman-teman terjawab, banyak pertanyaan di kepalaku, dan sepertinya
di kepala teman-teman yang lain pun sama. Timothus dan Baptista, dua kata yang
begitu berkesan nasrani, apakah setyo seorang Mualaf? Ataukah hanya keturunan
mualaf? Apakah yang dia maksud untuk pertanyaan-pertanyaan nya karena
keluarganya, atau bahkan setyo masih beragama nasrani? Ah entahlah, aku tak
enak ingin bertanya langsung pada setyo. Hey uniknya nama itu, aku menatapnya,
dan dia tersenyum simpul.
“ Nama apa itu setyo? Muallaf kah kau”?
Dan setyo
hanya menggelengkan kepalanya dengan pasti. Dia menjawab satu pertanyaan yang
meloncat-loncat di kepalaku.
***
Ijasah pun kami dapat, ternyata tak lama setelah
pelulusan Setyo kembali ke kebumen, dan aku hanya bisa berkomunikasi lewat
jejaring social. Setyo masihlah Setyo, yang nge fans berat sama luna maya,
periang, dan suka terhadap bahasan perbedaan agama.
Malam itu wajah ibunda setyo Terus membayang, aku
pun memberanikan diri bertanya pada Setyo mengenai kabar ibunya. Kebetulan
facebook setyo sedang dalam keadaan online. Aku chat saja Setyo.
“Setyo bagaimana kabar mama? Aku rasanya ingin
bertemu dan memeluk dia lagi”.
“Mama tidak ada”.
“Maksudnya? Kemana memang mamamu”?
“Mama pergi, mama tak ada lagi”.
“Jangan lah kau bercanda, itu mama mu, bukan temanmu”.
“Aku serius, Mama meninggal 100 hari yang lalu. Dan
semenjak itu aku tak lagi punya orang tua”
“Ya Tuhan… itu kah yang membuat kau kembali ke
kebumen? Dengan siapa sekarang kau tinggal Setyo”?
“Dengan kakak dan nenekku, doakan mama, semoga allah
mau menempatkan dia disisinya. Aku tak tau doaku sampai padanya atau tidak”.
“Doa anak sholeh pastilah sampai setyo, kakak kau
yang mirip afgan kah”? Aku mengalihkan pembicaraan mencoba tak terlarut dalam
kesedihan, maupun membuat setyo kembali bersedih.
“Ahahaha, masih ingat juga kau gita gutawa”?
“Ingat lah, kapan mau kau jodohkan aku dengan dia”?
“Ahahaha, ini ku beri link alamat facebooknya, kau
lihat dan bandingkan dengan Afgan”.
Aku coba buka facebook afgannya Setyo, dan yach
memang mirip seperti afgan dalam usia lebih matang dan mapan, dan lagi lebih
berotot. Tak puas hanya di foto aku baca info nya, dan ternyata…
“Setyo, kakak lo nasrani”?
Lama gak ada jawaban, owh mungkin setyo lagi ke wc.
Pikirku, aku tak sabar menunggu jawaban setyo. di profil kakak nya, tertera
agamanya 100% nasrani, aku coba pastikan status-status nya, dan waw! Dia
benar-benar nasrani yang taat, hanya penggalan-penggalan ayat dari al-kitab
yang di tuliskannnya. Memuja Tuhan Yesus. Sepertinya dia orang yang baik, dan
taat beragama. Akhirnya setyo menjawab chat ku.
“Ho oh, nasrani tulen”.
“What? Nenek mu juga? Brarti sekarang lo tinggal di
lingkungan nasrani? Tapi lo masih muslim kan”?
“Ia, doain aja aku masih muslim, aku serius, aku
pengen kamu doain aku”.
“Ia aku doain. Bntar, tpi pas mama meninggal beliau
dalam keadaan muslim kan”?
“Alhamdulillah, dia meninggal dalam keadaan muslim”.
“Kalo papah”?
“Papah enggak”
***.
Setelah percakapan panjang di dunia maya, akhirnya
aku tahu lebih dalam tentang Setyo. Timothus Baptista Setyo Pratopo adalah
mualaf, setyo yang periang, setyo yang sekarang tinggal di lingkungan yang tak
seagama, adalah setyo yang berpura-pura beragama nasrani, yang bila sholat
harus sembunyi-sembunyi, yang berdalih sedang diet untuk bisa berpuasa, yang
bersembunyi saat minggu pagi agar tak usah ikut ke gereja. Setyo adalah
timothus baptista. Yang lahir dari keluarga nasrani taat,sembunyi-sembunyi
berpindah agama dengan ibunya, dan merantau ke desa kecil dengan lingkungan
mayoritas muslim meninggalkan kakak dan neneknya yang masih teguh dengan
agamanya.