Nara's Menu

Rabu, 28 November 2012

Lirik Hymne AKSARA


Kami lahir ukir bahasa
Bagaikan kertas tak bertinta
Ingin karya tak terbatas
Kami lahir ukir bahasa
Sebagai alur-alur tinta
Menari berkarya cita
Cinta
Pada, tahta aksara
Menjemput pena pada singgasana
Lahir ukir bahasa
Dekap hangat
Ciptakan karyamu
Dalam jiwa aksara

Rabu, 10 Oktober 2012

TEROR


Jariku menari dengan tertatih mencoba bergerak dengan irama tapi seperti banyak terdiam dan berpikir untuk melanjutkan atau berhenti. Sepertinya otak tak terlalu bersemangat untuk mengkoordinir gerak jari ini. Terkadang rasa sakit lebih menguasai semuanya, owh ternyata hati masih ingin ikut berperan. Aku biarkan saja apa yang terlintas kutulis, kuhapus, atau bahkan ku tulis lagi. Banyak pertimbangan yang diperdebatkan otak dan hati, ayo cobalah lebih selaras dalam melakukan sesuatu, agar jariku tak usah terhenti menanti keputusan konyol kalian.
Ah jariku terhenti lagi, otakku meminta mata melihat waktu. Kenapa mesti peduli pada waktu?  Biarkan saja jarum jarum jam itu berputar mengelilingi nomor nomor tak penting , mereka hanya membuat aku terbatasi, atau terburu-buru. Mereka takkan bertambah walau aku meminta angka tiga belas, atau duapuluh lima.  Otak mencoba realistis, mencari pembenaran dari perkataan ku. Menimbang persentase logika.
Hati, meminta ku bersabar, kenapa aku harus bersabar?  Itu takkan membuat otak lebih cepat bekerja, hanya membuat jariku semakin lama terdiam menunggu. Akh menyebalkan. Setengah jam menunggu, akhirnya otak setuju denganku, kenapa mesti lama berpikir meski akhirnya setuju juga. Menyebalkan, membuang-buang tenaga saja.  Tidak kah dia tau kerja otak lebih banyak membakar kalori tubuhku. Lebih baik kugunakan untuk menulis.  Lagi lagi hati memintaku bersabar, berisik sekali dia. Aku bahkan sudah bersabar selama bertahun-tahun. Dan hasilnya, ya hanya itu, hanya kesabaran yang ku dapat.
Jariku mulai menari nari kembali, mencoba menambah rentetan kata agar bisa mencapai sekitar seribu karakter, tapi setelah sekian jam hanya dua ratus empat puluh satu kata yang baru kutulis. Ada apa lagi ini?  Aku minta seribu kata, apa aku harus berpikir sampai berjam jam lagi unutk memenuhi keinginan ini. Shits
Aku heran, kenapa sekarang selalu saja ada perdebatan? Otak ini sepertinya tak lagi bersahabat dengan syaraf-syaraf motorik. Tak sejalan dengan hati. Aku bahkan terkadang tak bisa mengendalikan organ-organ ini, mereka seperti memberontak, tak sejalan dengan tuannya. Aku curiga mungkin ada penyusup dalam diriku. Penyusup yang merasuk dan menjadi profokator. Atau mungkin ada teroris yang masuk dalam aliran darahku dan menyebar ke seluruh tubuh, masuk ke otak saat bersujud? Lalu meledakkan bom bom yang terbuat dari bahan peledak kimia, sehingga aku terkadang merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku.  Aku yakin ada sesuatu yang membuat aku selalu berdebat dengan tubuh ku sendiri, bertengkar, saling menyakiti, sampai aku harus menggelinjang merasakan nyeri yang teramat perih.
Terkadang yang kita perdebatkan hanyalah masalah sepele, tapi pemberontakan tangan yang lemas untuk bergerak, kaki yang enggan melangkah,otak yang berpikir terlalu lama, jantung yang berdetak terlalu cepat, mulut yang tak mau berkata banyak, mata yang berair,  seperti mereka tak lagi mau patuh padaku, sepertinya mereka lebih patuh pada sesuatu yang mengendalikan mereka, tapi apa itu? Siapa yang berani mengambil alih kontrol atas tubuhku dengan semena-mena, sejak kapan dia datang? Sejak kapan dia menggerogoti daerah yang paling aku kuasai, tubuhku sendiri. Kenapa bisa dia mengendalikan mereka tanpa seijinku. Atau mungkin aku secara tidak sadar mengijinkan dia mengambil alih semuanya secara perlahan? Aku rasa tak mungkin, aku buka type orang yang dengan mudah memberikan tahta pada orang lain tanpa perlawanan.
Akh, aku merasakan letupan letupan menyakitkan itu lagi, begitu nyeri di tulang punggung ku, linu rasanya, siapa yang melakukan itu? Itu seperti ledakkan kecil yang menjalar di sepanjang tulang belakangku. Tangan ini mencoba menggapai, tapi, ah bahkan dia tak bergerak. Aku rasa aku harus berdebat dengan otak dan syaraf lagi.
Tapi belum sampai aku menggertak otak, dia berdenyut kencang, mulutku berteriak mengaduh perih. Ah, apa otak pun mulai marah padaku?  Kenapa dia begitu terasa seperti ini, mataku berair, mungkin mataku sedih karna otak  akan ku marahi, tangan mencoba mengusap air yang menyusuri pipi, tapi dia masih tak bisa bergerak. Syaraf seperti mengikat tangan agar tak bisa berbuat apa-apa. Kenapa ini? Apa seluruh organ badanku bersekongkol untuk memberontak? Tak ada yang menjawab, meski aku berteriak.  Jantung ku sepertinya berharap aku bisa tenang dengan keadaan yang sedang terjadi, tapi bagaimana aku bisa tenang? Kau sama saja dengan hati, yang selalu minta aku bersabar, tenang, dan melakukan hal-hal melankolis lainnya. Aku benci melakukan hal hal cengen yang lemah itu. Mendengar ocehanku jantung terdiam sejenak, dan mulai berdetak perlahan, makin lama seperti makin melemah, giliran aku yang tersentak, kenapa lagi denganmu jantung? Kau mau ikut-ikutan marah padaku seperti mereka? Jantungku tetap berdetak dengan lambat dan lemah, tak menjawab pertanyaan ku. Kelopak mataku terasa berat sekarang, tapi aku tak merasa mengantuk kawan, kenapa kau ingin menutup, kelopak mata tak menjawab, hanya menundukan kulit semakin dalam, semakin bawah, dia tak mau berhenti turun. Aku berteriak agar dia mau berhenti. Dia tak mengacuhkan aku. Keterlaluan dia.
Badanku kini terasa begitu berat, mataku menunjukkan sesosok gelap yang besar. Aku bertanya siapa dia, dia semakin mendekat saja, semuanya diam. Tiba-tiba aku mersakan sakit yang amat sangat di ujung jempol kaki, menggetarkan seluruh badan sampai aku bahkan tak sempat meringgis kesakitan. Rasa sakit yang tiba-tiba dan sekejap itu sirna. Tanganku bisa bergerak kembali, bebas, aku seolah kembali mendapat kontrol  atas tubuhku, mendapatkan kembali kekuasaan atas tahta ku. Aku bahkan dapat melihat diriku sendiri. Tunggu, tapi kenapa aku yang ku lihat terbujur kaku disana. Aku mencari organ-organ tubuh, ah aku kehilangan jantung dan syaraf, kemana mereka? Apa mereka melarikan diri?atau dicuri? Kenapa aku ini? Apa sosok itu yang mencurinya?
Tiba-tiba aku teringat tulisan yang aku kerjakan bersama jemari, berharap aku menulis sesuatu yang bisa memberikan sebuah penjelasan. Aku ingin tau apa yang aku tulis. Aku bahkan lupa apa yang aku ceritakan pada kertas dan pena.  Kertas itu ada di samping aku yang sedang terbujur kaku, aku coba mengambil  kertas itu, tapi  kenapa tanganku tak dapat mengambilnya? Hey, kenapa tiba-tiba  banyak orang yang masuk kamarku? Ini daerah privacy, orang –orang itu mengangkat  aku yang terbujur kaku entah kemana, tanpa menghiraukan aku yang berteriak dan bertanya-tanya, mereka seolah tak melihatku. Seorang pria yang berseragam polisi meraih kertas yang ingin ku ambil, dia membacanya, aku pun ikut melihat dengan rasa penasaran.
“ Aku benci pada waktu yang membuat batasan pada hidup. Aku benci menyulam perih, menyiapakan tanah tidurku, aku tak siap berselimutkan kafan, atau beratapkan nisan.”
Ah hanya itukah yang aku tulis? Kenapa sedikit sekali? Kenapa aku menulis hal yang mengerikan seperti itu. Seorang berbaju putih datang tak lama kemudian dan berkata pada pria berseragam polisi, dia bilang aku yang tebujur kaku, tak bisa diselamatkan karena kanker otak yang seharusnya mendapatkan perawatan intensif, pembuluh darah di otakku pecah katanya. Dia bilang aku benar benar tak bisa diselamatkan.
Aku tercengang, kanker? Jadi selama ini, teroris itu? Penyusup  sialan itu… 

Rabu, 05 September 2012

WITH U

Photo Flipbook Slideshow Maker
Glitterfy.com - Photo Flipbooks

I don't wanna


Hi day, what’s happened today? Yeah is that not to interested to wrote all of happen.  It just like my father  tell to my mom about my younger sister Anindita, about his uniform, because his uniform was ripped. Poor you sista, I can not do anything, I just can said to my mom, that my sista is a child, she is 12 years old, and his mental  so far is more than good.  She is not crying or angry to our parents when our parents can not give his a better uniform. When his friend wear a new uniform, she just wear a second uniform  from our family is older than my sista. Mmh, I feel that when I was school at elementary school until now. May be for our parents buy a new uniform is too expensive. Is that to “klise ‘for you day? For me too.
But, actually it’s must I didn’t say like that. Because I never  be a parents before. For me, life like this, as a poor family, we more lucky than more people whose ever life. Like someone didn’t have a home, a parents, a part of body, or many things, and I? I just didn’t have one thing that’s “much money”. Just that, and actually I must be suggest my mind, my heart, my soul that I should be a rich person one day, as soon as I can. I don’t like to be a poor woman again. With a rich experience, rich knowledge, and rich iman, I wanna be a rich person. I can do that, yeah, I can do anything. So all of my sista, or all of my family can get happiness life. Amien. 

Selasa, 04 September 2012

NAMAKU SETYO PRATOPO



“Aku tak tau T.B. itu apa, pokoknya kakek yang ngasih nama itu.” Itu jawaban yang selalu keluar dari mulutnya. Aneh masa ada orang yang bahkan tidak tau namanya sendiri,bukan karna amnesia, atau alzhaimer menyerang otaknya. Tapi seolah tak suka dengan panggilan itu, air muka nya berubah saat disinggung soal singkatan di awal namanya. Setahun yang lalu dia jadi murid baru dikelas, memperkenalkan diri dengan wajah sumringah, tersenyum  lebar, dan mata berbinar, menatap seisi kelas dengan kekaguman, padahal yang ada dikelas waktu itu hanya sekumpulan anak kampung yang duduk di bangku sekolah menengah tak terpandang.
 “ Assalamualaikum, kenalkan nama saya Setyo Pratopo, asal saya dari Kebumen”.  Tuh kan bahkan dia tak menyebutkan nama depannya saat memperkenalkan diri.
“ Tyo coba kau Tanya ibumu, masa dia tidak tau arti nama T.B.”?
“ Ah, sudahlah, aku saja tak penasaran dengan nama itu, kenapa kau harus penasaran hah”?
Selalu seperti itu setiap aku bertanya apa arti dari T.B. Setyo Pratopo? Kenapa Setyo seolah tak ingin dengan nama itu. Aku cukup akrab dengan Setyo, ibunya bahkan tau aku, ya karena aku yang beliau hubungi kalau Setyo tak bisa masuk kelas, karena aku sekretaris kelas yang mengurusi absensi. Kami pun pernah bertemu, pertemuan yang sangat berkesan untuk ku, entah untuk beliau. Saat melihatku beliau sungguh seolah menampakkan rona bahagia, sambil memeluk dia menyebutkan namaku. Sekali saja aku bertemu beliau namun rasanya ada ikatan batin antara kami.
***
Yang aku tau Setyo tak pernah mau teman sekelasnya datang berkunjung ke kediamannya, dia selalu bilang kalau kakeknya galak, dan tunggulah kakekknya tak ada, barulah kami boleh berkunjung. Ayah Setyo sudah meniggal, dan itu yang membuat Setyo dan ibunya pindah dari Kebumen ke kota kecil tempat tinggalku. Katanya dia punya kakak lelaki yang tampan bagaikan penyanyi solo terkenal Afgan Syahreza, berkacamata dengan lesung pipit tentunya, namun kakanya lebih gagah dan lebih tampan. Tapi ia tak pernah mau menyebutkan siapa nama kakaknya. Aku pernah bilang, kenapa tak berikan saja kakanya padaku, toh akupun tak kalah cantik, mirip dengan penyanyi Gita Gutawa, dia hanya akan tertawa terbahak menggoyangkan perutnya yang lumayan buncit.
Pertemuan yang berkesan dengan ibunda dari setyo membuat terkadang ada rasa rindu, tapi malau lah jika aku bilang pada setyo aku rindu ibunya, nanti aku disangka punya maksud macam-macam. Tak pernah aku tanyakan kabar beliau pada setyo. setyo pun tak pernah tertarik untuk menceritakan perihal keluarga nya. Yang sering setyo ceritakan hanyalah pengalaman sekolah setyo di kebumen yang penuh corak agama. Dia selalu tertarik saat pembahasan mengenai perbedaan agama, dan selalu bertanya bagaimana nasib teman-teman nya di kebumen yang mayoritas beragama nasrani, sedangkan mereka begitu baik, dan tak suka berbuat maksiat? “Biarlah itu jadi perhitungan Tuhan”, hanya itu jawaban yang bisa aku berikan. Dan tentunya tidak memuaskan untuk Setyo.
***
Setelah ujian sekolah berakhir, nama menjadi begitu penting. Ijasah haruslah jelas, dan setyo tak lagi bisa menyembunyikan namanya. Saat guru mendesak setyo untuk menjabarkan kata T.B. yang ada pada nama depannya, setyo pun pasrah.
“Setyo, bagaimana? Sudah kamu tanyakan pada ibumu singkatan dari T.B itu apa?” ibu guru mencoba bertanya kembali pada setyo.
“T.B. itu singkatan bu, dari… Timothus Baptista.”
Sejenak seisi ruangan kelas menjadi hening, rasa penasaran aku dan teman-teman terjawab, banyak pertanyaan di kepalaku, dan sepertinya di kepala teman-teman yang lain pun sama. Timothus dan Baptista, dua kata yang begitu berkesan nasrani, apakah setyo seorang Mualaf? Ataukah hanya keturunan mualaf? Apakah yang dia maksud untuk pertanyaan-pertanyaan nya karena keluarganya, atau bahkan setyo masih beragama nasrani? Ah entahlah, aku tak enak ingin bertanya langsung pada setyo. Hey uniknya nama itu, aku menatapnya, dan dia tersenyum simpul.
“ Nama apa itu setyo? Muallaf kah kau”?
 Dan setyo hanya menggelengkan kepalanya dengan pasti. Dia menjawab satu pertanyaan yang meloncat-loncat di kepalaku.
***
Ijasah pun kami dapat, ternyata tak lama setelah pelulusan Setyo kembali ke kebumen, dan aku hanya bisa berkomunikasi lewat jejaring social. Setyo masihlah Setyo, yang nge fans berat sama luna maya, periang, dan suka terhadap bahasan perbedaan agama.
Malam itu wajah ibunda setyo Terus membayang, aku pun memberanikan diri bertanya pada Setyo mengenai kabar ibunya. Kebetulan facebook setyo sedang dalam keadaan online. Aku chat saja Setyo.
“Setyo bagaimana kabar mama? Aku rasanya ingin bertemu dan memeluk dia lagi”.
“Mama tidak ada”.
“Maksudnya? Kemana memang mamamu”?
“Mama pergi, mama tak ada lagi”.
“Jangan lah kau bercanda, itu mama mu, bukan temanmu”.
“Aku serius, Mama meninggal 100 hari yang lalu. Dan semenjak itu aku tak lagi punya orang tua”
“Ya Tuhan… itu kah yang membuat kau kembali ke kebumen? Dengan siapa sekarang kau tinggal Setyo”?
“Dengan kakak dan nenekku, doakan mama, semoga allah mau menempatkan dia disisinya. Aku tak tau doaku sampai padanya atau tidak”.
“Doa anak sholeh pastilah sampai setyo, kakak kau yang mirip afgan kah”? Aku mengalihkan pembicaraan mencoba tak terlarut dalam kesedihan, maupun membuat setyo kembali bersedih.
“Ahahaha, masih ingat juga kau gita gutawa”?
“Ingat lah, kapan mau kau jodohkan aku dengan dia”?
“Ahahaha, ini ku beri link alamat facebooknya, kau lihat dan bandingkan dengan Afgan”.
Aku coba buka facebook afgannya Setyo, dan yach memang mirip seperti afgan dalam usia lebih matang dan mapan, dan lagi lebih berotot. Tak puas hanya di foto aku baca info nya, dan ternyata…
“Setyo, kakak lo nasrani”?
Lama gak ada jawaban, owh mungkin setyo lagi ke wc. Pikirku, aku tak sabar menunggu jawaban setyo. di profil kakak nya, tertera agamanya 100% nasrani, aku coba pastikan status-status nya, dan waw! Dia benar-benar nasrani yang taat, hanya penggalan-penggalan ayat dari al-kitab yang di tuliskannnya. Memuja Tuhan Yesus. Sepertinya dia orang yang baik, dan taat beragama. Akhirnya setyo menjawab chat ku.
“Ho oh, nasrani tulen”.
“What? Nenek mu juga? Brarti sekarang lo tinggal di lingkungan nasrani? Tapi lo masih muslim kan”?
“Ia, doain aja aku masih muslim, aku serius, aku pengen kamu doain aku”.
“Ia aku doain. Bntar, tpi pas mama meninggal beliau dalam keadaan muslim kan”?
“Alhamdulillah, dia meninggal dalam keadaan muslim”.
“Kalo papah”?
“Papah enggak”
***.
Setelah percakapan panjang di dunia maya, akhirnya aku tahu lebih dalam tentang Setyo. Timothus Baptista Setyo Pratopo adalah mualaf, setyo yang periang, setyo yang sekarang tinggal di lingkungan yang tak seagama, adalah setyo yang berpura-pura beragama nasrani, yang bila sholat harus sembunyi-sembunyi, yang berdalih sedang diet untuk bisa berpuasa, yang bersembunyi saat minggu pagi agar tak usah ikut ke gereja. Setyo adalah timothus baptista. Yang lahir dari keluarga nasrani taat,sembunyi-sembunyi berpindah agama dengan ibunya, dan merantau ke desa kecil dengan lingkungan mayoritas muslim meninggalkan kakak dan neneknya yang masih teguh dengan agamanya.


Kamis, 05 Juli 2012

Kanyaah Abdi Ka Anjeun

nu napakan keusik ngan saukur sabaraha detik leungit ku gasik na cai laut. nu napakan hate nanceb nepi ka teu usik teu malik, panceg jejeg kanu hiji. saukur hiji teu aya deui.

Senin, 02 Juli 2012

WITH MY BEST F, WHEN A BEST MOMENTS

ama chika
 ama anak kostan
 ama chika lagi berkerudung
 ama adam

 ama ghina

ama meli
 ama reny
 ama irpa

 ama fika