Nara's Menu

Rabu, 10 Oktober 2012

TEROR


Jariku menari dengan tertatih mencoba bergerak dengan irama tapi seperti banyak terdiam dan berpikir untuk melanjutkan atau berhenti. Sepertinya otak tak terlalu bersemangat untuk mengkoordinir gerak jari ini. Terkadang rasa sakit lebih menguasai semuanya, owh ternyata hati masih ingin ikut berperan. Aku biarkan saja apa yang terlintas kutulis, kuhapus, atau bahkan ku tulis lagi. Banyak pertimbangan yang diperdebatkan otak dan hati, ayo cobalah lebih selaras dalam melakukan sesuatu, agar jariku tak usah terhenti menanti keputusan konyol kalian.
Ah jariku terhenti lagi, otakku meminta mata melihat waktu. Kenapa mesti peduli pada waktu?  Biarkan saja jarum jarum jam itu berputar mengelilingi nomor nomor tak penting , mereka hanya membuat aku terbatasi, atau terburu-buru. Mereka takkan bertambah walau aku meminta angka tiga belas, atau duapuluh lima.  Otak mencoba realistis, mencari pembenaran dari perkataan ku. Menimbang persentase logika.
Hati, meminta ku bersabar, kenapa aku harus bersabar?  Itu takkan membuat otak lebih cepat bekerja, hanya membuat jariku semakin lama terdiam menunggu. Akh menyebalkan. Setengah jam menunggu, akhirnya otak setuju denganku, kenapa mesti lama berpikir meski akhirnya setuju juga. Menyebalkan, membuang-buang tenaga saja.  Tidak kah dia tau kerja otak lebih banyak membakar kalori tubuhku. Lebih baik kugunakan untuk menulis.  Lagi lagi hati memintaku bersabar, berisik sekali dia. Aku bahkan sudah bersabar selama bertahun-tahun. Dan hasilnya, ya hanya itu, hanya kesabaran yang ku dapat.
Jariku mulai menari nari kembali, mencoba menambah rentetan kata agar bisa mencapai sekitar seribu karakter, tapi setelah sekian jam hanya dua ratus empat puluh satu kata yang baru kutulis. Ada apa lagi ini?  Aku minta seribu kata, apa aku harus berpikir sampai berjam jam lagi unutk memenuhi keinginan ini. Shits
Aku heran, kenapa sekarang selalu saja ada perdebatan? Otak ini sepertinya tak lagi bersahabat dengan syaraf-syaraf motorik. Tak sejalan dengan hati. Aku bahkan terkadang tak bisa mengendalikan organ-organ ini, mereka seperti memberontak, tak sejalan dengan tuannya. Aku curiga mungkin ada penyusup dalam diriku. Penyusup yang merasuk dan menjadi profokator. Atau mungkin ada teroris yang masuk dalam aliran darahku dan menyebar ke seluruh tubuh, masuk ke otak saat bersujud? Lalu meledakkan bom bom yang terbuat dari bahan peledak kimia, sehingga aku terkadang merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku.  Aku yakin ada sesuatu yang membuat aku selalu berdebat dengan tubuh ku sendiri, bertengkar, saling menyakiti, sampai aku harus menggelinjang merasakan nyeri yang teramat perih.
Terkadang yang kita perdebatkan hanyalah masalah sepele, tapi pemberontakan tangan yang lemas untuk bergerak, kaki yang enggan melangkah,otak yang berpikir terlalu lama, jantung yang berdetak terlalu cepat, mulut yang tak mau berkata banyak, mata yang berair,  seperti mereka tak lagi mau patuh padaku, sepertinya mereka lebih patuh pada sesuatu yang mengendalikan mereka, tapi apa itu? Siapa yang berani mengambil alih kontrol atas tubuhku dengan semena-mena, sejak kapan dia datang? Sejak kapan dia menggerogoti daerah yang paling aku kuasai, tubuhku sendiri. Kenapa bisa dia mengendalikan mereka tanpa seijinku. Atau mungkin aku secara tidak sadar mengijinkan dia mengambil alih semuanya secara perlahan? Aku rasa tak mungkin, aku buka type orang yang dengan mudah memberikan tahta pada orang lain tanpa perlawanan.
Akh, aku merasakan letupan letupan menyakitkan itu lagi, begitu nyeri di tulang punggung ku, linu rasanya, siapa yang melakukan itu? Itu seperti ledakkan kecil yang menjalar di sepanjang tulang belakangku. Tangan ini mencoba menggapai, tapi, ah bahkan dia tak bergerak. Aku rasa aku harus berdebat dengan otak dan syaraf lagi.
Tapi belum sampai aku menggertak otak, dia berdenyut kencang, mulutku berteriak mengaduh perih. Ah, apa otak pun mulai marah padaku?  Kenapa dia begitu terasa seperti ini, mataku berair, mungkin mataku sedih karna otak  akan ku marahi, tangan mencoba mengusap air yang menyusuri pipi, tapi dia masih tak bisa bergerak. Syaraf seperti mengikat tangan agar tak bisa berbuat apa-apa. Kenapa ini? Apa seluruh organ badanku bersekongkol untuk memberontak? Tak ada yang menjawab, meski aku berteriak.  Jantung ku sepertinya berharap aku bisa tenang dengan keadaan yang sedang terjadi, tapi bagaimana aku bisa tenang? Kau sama saja dengan hati, yang selalu minta aku bersabar, tenang, dan melakukan hal-hal melankolis lainnya. Aku benci melakukan hal hal cengen yang lemah itu. Mendengar ocehanku jantung terdiam sejenak, dan mulai berdetak perlahan, makin lama seperti makin melemah, giliran aku yang tersentak, kenapa lagi denganmu jantung? Kau mau ikut-ikutan marah padaku seperti mereka? Jantungku tetap berdetak dengan lambat dan lemah, tak menjawab pertanyaan ku. Kelopak mataku terasa berat sekarang, tapi aku tak merasa mengantuk kawan, kenapa kau ingin menutup, kelopak mata tak menjawab, hanya menundukan kulit semakin dalam, semakin bawah, dia tak mau berhenti turun. Aku berteriak agar dia mau berhenti. Dia tak mengacuhkan aku. Keterlaluan dia.
Badanku kini terasa begitu berat, mataku menunjukkan sesosok gelap yang besar. Aku bertanya siapa dia, dia semakin mendekat saja, semuanya diam. Tiba-tiba aku mersakan sakit yang amat sangat di ujung jempol kaki, menggetarkan seluruh badan sampai aku bahkan tak sempat meringgis kesakitan. Rasa sakit yang tiba-tiba dan sekejap itu sirna. Tanganku bisa bergerak kembali, bebas, aku seolah kembali mendapat kontrol  atas tubuhku, mendapatkan kembali kekuasaan atas tahta ku. Aku bahkan dapat melihat diriku sendiri. Tunggu, tapi kenapa aku yang ku lihat terbujur kaku disana. Aku mencari organ-organ tubuh, ah aku kehilangan jantung dan syaraf, kemana mereka? Apa mereka melarikan diri?atau dicuri? Kenapa aku ini? Apa sosok itu yang mencurinya?
Tiba-tiba aku teringat tulisan yang aku kerjakan bersama jemari, berharap aku menulis sesuatu yang bisa memberikan sebuah penjelasan. Aku ingin tau apa yang aku tulis. Aku bahkan lupa apa yang aku ceritakan pada kertas dan pena.  Kertas itu ada di samping aku yang sedang terbujur kaku, aku coba mengambil  kertas itu, tapi  kenapa tanganku tak dapat mengambilnya? Hey, kenapa tiba-tiba  banyak orang yang masuk kamarku? Ini daerah privacy, orang –orang itu mengangkat  aku yang terbujur kaku entah kemana, tanpa menghiraukan aku yang berteriak dan bertanya-tanya, mereka seolah tak melihatku. Seorang pria yang berseragam polisi meraih kertas yang ingin ku ambil, dia membacanya, aku pun ikut melihat dengan rasa penasaran.
“ Aku benci pada waktu yang membuat batasan pada hidup. Aku benci menyulam perih, menyiapakan tanah tidurku, aku tak siap berselimutkan kafan, atau beratapkan nisan.”
Ah hanya itukah yang aku tulis? Kenapa sedikit sekali? Kenapa aku menulis hal yang mengerikan seperti itu. Seorang berbaju putih datang tak lama kemudian dan berkata pada pria berseragam polisi, dia bilang aku yang tebujur kaku, tak bisa diselamatkan karena kanker otak yang seharusnya mendapatkan perawatan intensif, pembuluh darah di otakku pecah katanya. Dia bilang aku benar benar tak bisa diselamatkan.
Aku tercengang, kanker? Jadi selama ini, teroris itu? Penyusup  sialan itu… 

Tidak ada komentar: