
Senin, 16 November 2009
mata=panah IBLIS

MAu SyaHid??
batasan dari hati
Minggu, 15 November 2009
Saat TUHAN mengambil apa yang ku genggam
Tuhan berhak atas segala apa yang aku punya saat ini, Tuhan berhak membawa harta, orang tua, bahkan jasadku ini, kapan saja, dan atas alasan apa saja. dan mulai hari ini aku tak punya atap untuk berlindung, aku tak punya rumah untuk bernaung. tapi aku percaya dan yakin aku masih punya Tuhan tempat aku bergantung. aku tau yang ku alami hari ini masih belum seberapa dibanding yang orang lain hadapi di luar sana. aku masih diberinya nikmat untuk tersenyum dan bahagia. aku hanya miris saat melihat orang tua ku begitu tak berdaya untuk sekedar tersenyum. mereka terlalu pusing oleh aku, dan kejamnya dunia. himpitan ekonomi yang kami hadapi mungkin masih belum sberapa, aku yakin ayahku masih bisa berusaha sekuat tenaganya untuk menghidupi kami. aku hanya tak ingin melihat mereka menangis dan merenggut. Tuhan, aku yakin ini slah satu peringatan dari-Mu karena dosa-dosa ku yang belump bisa ku tebus. semoga saja kami sekeluarga bisa melewati ini dengan cepat dan ikhlas...
AMIEN
AMIEN
Kamis, 05 November 2009
AkU BuKAN LAGI BAyI

aku meminta dan memohon pada Rabb-ku, aku menginginkan sesuatu. aku malu pada- Nya yang menciptakan aku. atas kesombongan dan kecurangan, aku sombong karena hanya bisa meminta dan meminta, curang karena aku mengingat-Nya hanya saat aku membutuhkan-Nya. padahal aku tau Rabb-ku hadir di setiap hela nafasku. saat aku berdoa, aku percaya Rabb-ku mendengar, tapi keraguan mengkorosi hati, saat aku merasa tak pantas lagi untuk meminta pada-Nya.
AKU BUKAN LAGI BAYI, AKU BUKAN LAGI MAKHLUK SUCI.
aku merasa tak pantas mengharap Rabb-ku mau mengabulkan pengharapan itu. tapi ternyata Tuhan begitu menyayangi umat-Nya, karena Tuhan akan tetap memberikan kenikmatan pada manusia, meski manusia itu jelas-jelas selalu melupakan-Nya.
MESKI AKU BUKAN LAGI BAYI, MESKI AKU BUKAN LAGI MAKHLUK SUCI.
falsafah dari bapak Tahu
perjalan 30 menit lebuh bersama seorang bapak yang begitu bangga terhadap anaknya. dia yang membuktikan bahwa uang bukan alasan untuk tak mendapatkan pendidikan. dia yang menegaskan bahwa semua masalah memiliki pemecahan. dia yang menjelaskan pentingnya punya prinsip dan keteguhan. tekad berusaha dan berubah.
dan aku yakin, pertemuan kami bukan sebuah dasar kebetulan. terlebih karenma Tuhan mengingatkan aku akan sebuah keangkuhan dan pengkhianatan atas begitu banyak kenikmatan yang telah, sedang dan akan aku peroleh.
aku dalam sebuah pencarian
Langganan:
Komentar (Atom)


