Nara's Menu

Senin, 16 November 2009

mata=panah IBLIS



segala peristiwa berawal dari pandangan mata, jilatan api bermula dari setitik bara. berapa banayk pandangan yang memebelah hati, laksana anak panah yang melesat dari tali. selagi manusia masih memiliki mata untuk memandang, dia tak akan lepas dari bahaya yang menghadang, senang di permulaan dan ada bahaya di kemudian hari. tiada ucapan selamat datang dan ada bahaya saat kembali.

seorang hamba yang cacat fisik pun, masih bisa punya rasa syukur!!!
karena ternyata bukan hatinya yang cacat.....dan aku, kamu, kita, yang punya fisik sempurna, harusnya berusaha mengoptimalkan potensi yang Tuhan berikan!!!!!!!!
sebagai tanda syukur atas apa yang kita miliki....

MAu SyaHid??


kenikmatan dunia hanya sebagian kecil dari kenikmatan syurga. tapi manusia banyak yang takut menghadapi syahid di dunia, padahal Tuhan menjanjikan kenikmatan yang tak dapat dibandingkan dengan apa yang ada di dunia.

batasan dari hati


keterbatasan fisik, materi, atau otak bukan penghalang untuk tak berbuat dan berusaha menjadi yang terbaik. keterbatasan hatilah yang membuat seseorang mendapati kerugian....

Minggu, 15 November 2009

Saat TUHAN mengambil apa yang ku genggam

Tuhan berhak atas segala apa yang aku punya saat ini, Tuhan berhak membawa harta, orang tua, bahkan jasadku ini, kapan saja, dan atas alasan apa saja. dan mulai hari ini aku tak punya atap untuk berlindung, aku tak punya rumah untuk bernaung. tapi aku percaya dan yakin aku masih punya Tuhan tempat aku bergantung. aku tau yang ku alami hari ini masih belum seberapa dibanding yang orang lain hadapi di luar sana. aku masih diberinya nikmat untuk tersenyum dan bahagia. aku hanya miris saat melihat orang tua ku begitu tak berdaya untuk sekedar tersenyum. mereka terlalu pusing oleh aku, dan kejamnya dunia. himpitan ekonomi yang kami hadapi mungkin masih belum sberapa, aku yakin ayahku masih bisa berusaha sekuat tenaganya untuk menghidupi kami. aku hanya tak ingin melihat mereka menangis dan merenggut. Tuhan, aku yakin ini slah satu peringatan dari-Mu karena dosa-dosa ku yang belump bisa ku tebus. semoga saja kami sekeluarga bisa melewati ini dengan cepat dan ikhlas...
AMIEN

Kamis, 05 November 2009

AkU BuKAN LAGI BAyI


aku meminta dan memohon pada Rabb-ku, aku menginginkan sesuatu. aku malu pada- Nya yang menciptakan aku. atas kesombongan dan kecurangan, aku sombong karena hanya bisa meminta dan meminta, curang karena aku mengingat-Nya hanya saat aku membutuhkan-Nya. padahal aku tau Rabb-ku hadir di setiap hela nafasku. saat aku berdoa, aku percaya Rabb-ku mendengar, tapi keraguan mengkorosi hati, saat aku merasa tak pantas lagi untuk meminta pada-Nya.

AKU BUKAN LAGI BAYI, AKU BUKAN LAGI MAKHLUK SUCI.

aku merasa tak pantas mengharap Rabb-ku mau mengabulkan pengharapan itu. tapi ternyata Tuhan begitu menyayangi umat-Nya, karena Tuhan akan tetap memberikan kenikmatan pada manusia, meski manusia itu jelas-jelas selalu melupakan-Nya.

MESKI AKU BUKAN LAGI BAYI, MESKI AKU BUKAN LAGI MAKHLUK SUCI.

falsafah dari bapak Tahu


sebuah pengalaman dan ilmu ternyata memang tak mesti didapat dari sebuah pendidikan formal. pertemuan singkat pagi itu, membuat otakku tersadar akan arti dari sebuah kehidupan dan perjuangan. melekatnya beribu ucap nasihat.


perjalan 30 menit lebuh bersama seorang bapak yang begitu bangga terhadap anaknya. dia yang membuktikan bahwa uang bukan alasan untuk tak mendapatkan pendidikan. dia yang menegaskan bahwa semua masalah memiliki pemecahan. dia yang menjelaskan pentingnya punya prinsip dan keteguhan. tekad berusaha dan berubah.

dan aku yakin, pertemuan kami bukan sebuah dasar kebetulan. terlebih karenma Tuhan mengingatkan aku akan sebuah keangkuhan dan pengkhianatan atas begitu banyak kenikmatan yang telah, sedang dan akan aku peroleh.

aku dalam sebuah pencarian


merasa jadi paling rendah, saat ada di tengah orang-orang yang menunjukkna sebuah kemantapan. aku tak mengerti mengapa mereka seperti itu? memiliki keyakinan akan keteduhan. sedangkan aku belum menemukan jua peneduh itu. atau mungkin aku tak melihat yang sebenarnya ada di hadapanku. saat seharusnya aku hanya perlu menggapai dan meraihnya dalam satu langkah, aku malah berlari menjauh. itu mungkin yang membuat begitu lama waktu yang harus ku tempuh untuk kembaLi. berjalan, begitu pelan perlahan. dan terkadang buat aku ingin berhenti dan menyerah.