Hey namaku sekolah tanpa standar,. Sebenarnya aku malu jika harus bercerita dengan keadaan seperti ini. Dengan helaian genting yang membotak, jendela yang pecak, dan pondasi yang mungkin sebentar lagi lumpuh dimakan usia. Kadang ingin aku memperkenalkan diri dengan lantang dan gagah. Tapi ya, sudahlah. Aku akan menceritakan tentang pengalamanku selama hidup, pengalaman pribadi sebagai sekolah yang tak punya gelar standar tingkat nasional bahkan internasional.
Awal mulanya saat aku terlahir di tempat yang begitu terpencil, berfisik seadanya, banyak cacat disana-sini. Sejak dilahirkan aku tak banyak diminati. Hanya satu kepala sekolah, tiga guru dan beberapa anak haus ilmu. Sekian tahun, merangkak usia batita aku tak begitu banyak mengalami perubahan. Masih tetap kurang diminati, terbukti dengan siswa yang masuk kedalam tubuhku, tak pernah lebih dari sepuluh orang. Bocah-bocah kumal, hitam, kotor, sangat kontras dengan keadaan ku. Mereka yang datang tidak dengan seragam dan alas kaki, tapi penuh senyum, semangat, dan keceriaan. Hanya itu yang membuat aku tetap tertatih menopang rusuk agar tak jatuh menimpa anak-anak miskin itu.
Sempat aku hendak tak berbentuk lagi, apabila peminat setiaku tak segera menopang aku dengan tongkat panjang dari bambu itu, akupun tak lagi dapat meneduhi peminat setiaku itu saat hujan tiba. Karena kebotakan genting semakin menjadi.
Sebenarnya aku punya saudara, namun saudaraku itu bernasib jauh lebih baik dariku, dengan segala fasilitas fisik yang indah dia begitu banyak diminati, dipuja dan disayang oleh orang tua kami. Saudaraku itu bernama Sekolah Standar Nasional, oleh Ayah dan Ibu, saudaraku ini selalu diberi fasilitas berlebih, genting nya tak pernah botak, jendela tak pernah pecak, rusuknya kokoh, lantai dan kulit dinding nya pun bersih, hampir setiap tahun saudaraku ini mendapat pengobatan renovasi, sungguh aku iri pada saudaraku ini. Apa daya, meski meronta dan mengemis tetap saja aku ter abaikan, seperti di anak tiri kan. Atau kah aku memang anak tiri? Entahlah, yang pasti Ayah ku yang bernama dinas pendidikan, selalu memandang aku dengan sebelah mata, begitu juga Ibu ku yang bernama Pemerintah, tak pernah mengacuhkan aku. Sedih rasanya selalu hidup terisolasi, harapan aku sebagai sekolah tanpa standar satu-satunya ialah keinginan peminat ku untuk memajukan dan mengharumkan namaku, agar aku bisa dilirik oleh orang tua ku, agar orang tua ku tau kalau sekolah tanpa standar dapat menghasilkan orang berkualitas dan membanggakan.
Entah bagaimana akhir nasibku, aku akan roboh dan mati tanpa dikenang, atau berubah lebih indah dan lebih baik dari sekarang, atau mungkin aku akan tenang mati dengan mengukir kenangan terlebih dahulu. Peminat ku, mereka lah yang akan merubah nasib ku sekarang dan nanti. Semoga aku tak smapai kehabisan peminat. Dan semoga bila aku berubah nanti, aku bisa tetap menopang rusuk dan menyediakan tubuhku untuk anak-anak kumal, hitam dan tak berseragam lainnya. Aku ingin tetap ada untuk anak-anak seperti mereka.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar