Jariku
menari dengan tertatih mencoba bergerak dengan irama tapi seperti banyak
terdiam dan berpikir untuk melanjutkan atau berhenti. Sepertinya otak tak
terlalu bersemangat untuk mengkoordinir gerak jari ini. Terkadang rasa sakit
lebih menguasai semuanya, owh ternyata hati masih ingin ikut berperan. Aku
biarkan saja apa yang terlintas kutulis, kuhapus, atau bahkan ku tulis lagi.
Banyak pertimbangan yang diperdebatkan otak dan hati, ayo cobalah lebih selaras
dalam melakukan sesuatu, agar jariku tak usah terhenti menanti keputusan konyol
kalian.
Ah
jariku terhenti lagi, otakku meminta mata melihat waktu. Kenapa mesti peduli
pada waktu? Biarkan saja jarum jarum jam
itu berputar mengelilingi nomor nomor tak penting , mereka hanya membuat aku
terbatasi, atau terburu-buru. Mereka takkan bertambah walau aku meminta angka
tiga belas, atau duapuluh lima. Otak
mencoba realistis, mencari pembenaran dari perkataan ku. Menimbang persentase
logika.
Hati,
meminta ku bersabar, kenapa aku harus bersabar?
Itu takkan membuat otak lebih cepat bekerja, hanya membuat jariku
semakin lama terdiam menunggu. Akh menyebalkan. Setengah jam menunggu, akhirnya
otak setuju denganku, kenapa mesti lama berpikir meski akhirnya setuju juga.
Menyebalkan, membuang-buang tenaga saja.
Tidak kah dia tau kerja otak lebih banyak membakar kalori tubuhku. Lebih
baik kugunakan untuk menulis. Lagi lagi
hati memintaku bersabar, berisik sekali dia. Aku bahkan sudah bersabar selama
bertahun-tahun. Dan hasilnya, ya hanya itu, hanya kesabaran yang ku dapat.
Jariku
mulai menari nari kembali, mencoba menambah rentetan kata agar bisa mencapai
sekitar seribu karakter, tapi setelah sekian jam hanya dua ratus empat puluh
satu kata yang baru kutulis. Ada apa lagi ini?
Aku minta seribu kata, apa aku harus berpikir sampai berjam jam lagi
unutk memenuhi keinginan ini. Shits
Aku
heran, kenapa sekarang selalu saja ada perdebatan? Otak ini sepertinya tak lagi
bersahabat dengan syaraf-syaraf motorik. Tak sejalan dengan hati. Aku bahkan
terkadang tak bisa mengendalikan organ-organ ini, mereka seperti memberontak,
tak sejalan dengan tuannya. Aku curiga mungkin ada penyusup dalam diriku.
Penyusup yang merasuk dan menjadi profokator. Atau mungkin ada teroris yang
masuk dalam aliran darahku dan menyebar ke seluruh tubuh, masuk ke otak saat
bersujud? Lalu meledakkan bom bom yang terbuat dari bahan peledak kimia,
sehingga aku terkadang merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku. Aku yakin ada sesuatu yang membuat aku selalu
berdebat dengan tubuh ku sendiri, bertengkar, saling menyakiti, sampai aku
harus menggelinjang merasakan nyeri yang teramat perih.
Terkadang
yang kita perdebatkan hanyalah masalah sepele, tapi pemberontakan tangan yang
lemas untuk bergerak, kaki yang enggan melangkah,otak yang berpikir terlalu
lama, jantung yang berdetak terlalu cepat, mulut yang tak mau berkata banyak,
mata yang berair, seperti mereka tak
lagi mau patuh padaku, sepertinya mereka lebih patuh pada sesuatu yang
mengendalikan mereka, tapi apa itu? Siapa yang berani mengambil alih kontrol atas
tubuhku dengan semena-mena, sejak kapan dia datang? Sejak kapan dia
menggerogoti daerah yang paling aku kuasai, tubuhku sendiri. Kenapa bisa dia
mengendalikan mereka tanpa seijinku. Atau mungkin aku secara tidak sadar
mengijinkan dia mengambil alih semuanya secara perlahan? Aku rasa tak mungkin,
aku buka type orang yang dengan mudah memberikan tahta pada orang lain tanpa
perlawanan.
Akh,
aku merasakan letupan letupan menyakitkan itu lagi, begitu nyeri di tulang
punggung ku, linu rasanya, siapa yang melakukan itu? Itu seperti ledakkan kecil
yang menjalar di sepanjang tulang belakangku. Tangan ini mencoba menggapai,
tapi, ah bahkan dia tak bergerak. Aku rasa aku harus berdebat dengan otak dan
syaraf lagi.
Tapi
belum sampai aku menggertak otak, dia berdenyut kencang, mulutku berteriak
mengaduh perih. Ah, apa otak pun mulai marah padaku? Kenapa dia begitu terasa seperti ini, mataku
berair, mungkin mataku sedih karna otak
akan ku marahi, tangan mencoba mengusap air yang menyusuri pipi, tapi
dia masih tak bisa bergerak. Syaraf seperti mengikat tangan agar tak bisa
berbuat apa-apa. Kenapa ini? Apa seluruh organ badanku bersekongkol untuk
memberontak? Tak ada yang menjawab, meski aku berteriak. Jantung ku sepertinya berharap aku bisa tenang
dengan keadaan yang sedang terjadi, tapi bagaimana aku bisa tenang? Kau sama
saja dengan hati, yang selalu minta aku bersabar, tenang, dan melakukan hal-hal
melankolis lainnya. Aku benci melakukan hal hal cengen yang lemah itu.
Mendengar ocehanku jantung terdiam sejenak, dan mulai berdetak perlahan, makin
lama seperti makin melemah, giliran aku yang tersentak, kenapa lagi denganmu
jantung? Kau mau ikut-ikutan marah padaku seperti mereka? Jantungku tetap
berdetak dengan lambat dan lemah, tak menjawab pertanyaan ku. Kelopak mataku
terasa berat sekarang, tapi aku tak merasa mengantuk kawan, kenapa kau ingin
menutup, kelopak mata tak menjawab, hanya menundukan kulit semakin dalam,
semakin bawah, dia tak mau berhenti turun. Aku berteriak agar dia mau berhenti.
Dia tak mengacuhkan aku. Keterlaluan dia.
Badanku
kini terasa begitu berat, mataku menunjukkan sesosok gelap yang besar. Aku
bertanya siapa dia, dia semakin mendekat saja, semuanya diam. Tiba-tiba aku
mersakan sakit yang amat sangat di ujung jempol kaki, menggetarkan seluruh badan
sampai aku bahkan tak sempat meringgis kesakitan. Rasa sakit yang tiba-tiba dan
sekejap itu sirna. Tanganku bisa bergerak kembali, bebas, aku seolah kembali
mendapat kontrol atas tubuhku,
mendapatkan kembali kekuasaan atas tahta ku. Aku bahkan dapat melihat diriku
sendiri. Tunggu, tapi kenapa aku yang ku lihat terbujur kaku disana. Aku
mencari organ-organ tubuh, ah aku kehilangan jantung dan syaraf, kemana mereka?
Apa mereka melarikan diri?atau dicuri? Kenapa aku ini? Apa sosok itu yang
mencurinya?
Tiba-tiba
aku teringat tulisan yang aku kerjakan bersama jemari, berharap aku menulis
sesuatu yang bisa memberikan sebuah penjelasan. Aku ingin tau apa yang aku
tulis. Aku bahkan lupa apa yang aku ceritakan pada kertas dan pena. Kertas itu ada di samping aku yang sedang
terbujur kaku, aku coba mengambil kertas
itu, tapi kenapa tanganku tak dapat
mengambilnya? Hey, kenapa tiba-tiba
banyak orang yang masuk kamarku? Ini daerah privacy, orang –orang itu
mengangkat aku yang terbujur kaku entah
kemana, tanpa menghiraukan aku yang berteriak dan bertanya-tanya, mereka seolah
tak melihatku. Seorang pria yang berseragam polisi meraih kertas yang ingin ku
ambil, dia membacanya, aku pun ikut melihat dengan rasa penasaran.
“ Aku benci pada
waktu yang membuat batasan pada hidup. Aku benci menyulam perih, menyiapakan
tanah tidurku, aku tak siap berselimutkan kafan, atau beratapkan nisan.”
Ah
hanya itukah yang aku tulis? Kenapa sedikit sekali? Kenapa aku menulis hal yang
mengerikan seperti itu. Seorang berbaju putih datang tak lama kemudian dan
berkata pada pria berseragam polisi, dia bilang aku yang tebujur kaku, tak bisa
diselamatkan karena kanker otak yang seharusnya mendapatkan perawatan intensif,
pembuluh darah di otakku pecah katanya. Dia bilang aku benar benar tak bisa
diselamatkan.
Aku
tercengang, kanker? Jadi selama ini, teroris itu? Penyusup sialan itu…