Isu fiskal yang lagi booming di kampus upi tasikmalaya ditanggapi berbeda oleh berbagai pihak. DPM yang mengangkat isu ini dianggap sebagai pihak yang sengaja ingin mengkudeta pihak BEM. Haha, sungguh kejam, padahal seharusnya isu fiskal ini diangkat dan diselesaikan oleh pemerintahan yaitu BEM sendiri. DPM hanya menganggap isu fiskal ini urgent dan harus di dapatkan keputusan akhirnya. Karena isu ini sudah ada sejak beberapa tahun kebelakang, dan perlu diketahui kalo hanya upi kamda tasik yang belum melaksanakan fiskal. Katro banget kan? Kami sudah memaparkan kebutuhan, keharusan dan keinginan fiskal, selain menyamakan periode kepengurusan baik dengan lembaga, rektorat, rema, dan ukm2 lain. Dari ketidaksamaan periode itu banyak hal yang ganjil sebenarnya. Silahkan saja cermati oleh temen-temen. Kalo kalian mengerti birokrasi pasati banyak ketidaksesuaian dan keanehan yang kalian temukan. Dan hal itu berlangsung selama bertahun-tahun di upi tasik tanpa ada yang menyadarinya, dan tanpa ada yang membenahinya. Baik dari pemerintahan, mahasiswa, ataupun lembaga. Jadi kenapa semua itu terjadi? Apa karena ketidak pedulian civitas, atau karena ketidak tauan civitas? Entahlah. Saat DPM mencoba untuk mencari penyelesaian, kami dianggap ingin mengkudeta BEM. Bem pun mengeluarkan argument bahwa kami di DPM menekan BEM untuk mau turun di tengah kepengurusan, egois mereka, mereka hanya mementingkan gengsi mereka sendiri. Kalau saya ingin mengkudeta BEM untuk apa saya menyuruh BEM ( Ipan) untuk mengadakan sosialisasi ulang pada UKM yang telah menyetujui fiskal di tengah periode.
Yang lucunya, semua ormawa meminta kami di DPM untuk mengkaji tentang fiskal memeberitahukan semua hal tentang fiskal. Padahal seharusnya kita semua mengkaji hal ini bersamaan, dan harusnya BEM lebih tau tentang semua ini. Tapi apa buktinya? Mengkaji pun tidak. Sudahlah, hanya waktu yang bisa menentukan semua ini baik atau tidak. Meski niat baik ini dianggap buruk, mungkin karena memang cara yang kami lakukan salah. Tapi semoga semua ini terbukti kebaikan dan kebenarannya. Amien. Kami dari pihak DPM hanya bisa minta maaf pada semua pihak yang merasa dizalimi. Mari kita perbaiki system, mari kita benahi semuanya, bersama-sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar